How many tourists visit New York each year, purchase this obligatory souvenir, and then return home to a place that lacks civic...
Kissing Clothespin Magnet | The House That Lars Built
This sweet magnet would be perfect for Wedding bomboniere for budget brides (or even as...
these are beyond awesome !
- home office (miss-design)
Cesiiiiiiii kabar akoh baiiiik.. Hikkk kenjeeen T.T
beautiful.
Setelah berpikir lama-lama bagaimana mendeskripsikan kehidupan versi saya, ternyata semua berujung hanya pada satu kata, indah. Bukan tanpa kesulitan atau kesedihan, tetapi tetap saja indah.
Sudah dua hari saya tidak keluar rumah. Dibandingkan dengan teman-teman pelajar lain di sini saya memang masuk kategori paling ‘nganggur’, hehe. Selama satu semester penuh kemarin saya hanya diharuskan mengikuti kelas bahasa intensif. Setiap hari dari Senin-Jumat, jam 8.45 sampai jam 12.00. Selama 4 bulan belajar bahasa Jepang, sudah tidak terhitung berapa banyak kuis yang harus saya kerjakan, setiap malam menghafal 25 kosakata baru, mengerjakan PR, dan yang tersulit adalah bangun pagi dan berangkat ke kampus yang letaknya di atas gunung. Makanya, ketika akhirnya ujian akhir selesai dan kelas libur, rasanya ada yang ingin dirayakan dengan cara tinggal di rumah dan tidak mengerjakan apa-apa. Dan ternyata, tidak mengerjakan apa-apa ini membuat pikiran saya justru menjelajah jauh, ke kampung halaman, ke masa lalu, bahkan ke masa depan..
Teringat lagi percakapan panjang lebar dua malam yang lalu dengan kakak tercinta yang terpisah tak kurang dari 5800 km via teknologi canggih buatan alm. SJ yang, syukur alhamdulillah, jauh lebih cepat (hampir tanpa delay) dan lebih ringan daripada teknologi S***e ataupun Y***o Messenger. Sudah hampir dua minggu saya tidak bertukar cerita dengan keluarga. Sms terakhir dari Ibu bahkan sangat singkat, “Doain Maaliq ya, sejak jam 2 pagi tadi kondisinya kurang bagus. Semoga diberikan yang terbaik ya”. Kebetulan sms itu datang di hari saya harus melaksanakan ujian terakhir sampai dengan tiga hari setelahnya. Setelah itu, sedikit sekali kabar yang saya dengar dari keluarga. Kata-kata, ganti darah (bukan cuci darah), demam lagi, kemo, dan sebagainya berputar-putar di kepala saya, sesekali muncul di antara bunpo dan kotoba yang susah payah saya tempel di dalam kepala. Sms itu tidak saya balas, saya langsung berburu tiket untuk pulang. Saya sangat ingin bertemu dengan keponakan tercinta yang sudah mengenal arti kata berjuang, sejak Ia memutuskan untuk keluar dari perut kakak saya lebih cepat dari perkiraan semua orang tak lebih dari 9 minggu yang lalu..
Maka selama 9 minggu inilah dengan suka cita seluruh keluarga saya menemani dan mensupport Maaliq. Sesekali bertukar cerita dengan saya, yang isinya tak lebih dari rangkuman diagnosa dokter, hasil lab, dan perasaan mereka yang berada nun jauh di sana. Kalau koneksi lagi bagus, bisa saling melihat wajah sambil ngobrol serasa ada di tempat yang sama. Kalau tidak, hanya jemari saja yang mondar mandir di atas keyboard, kerja keras menuangkan segenap perasaan..meskipun tetap tidak puas rasanya.
Kembali ke percakapan saya dengan kakak beberapa malam yang lalu, sejujurnya beberapa kali saya berusaha membendung airmata. Terharu sekali mengingat lawan perang mulut dan jambak menjambak rambut saya sejak lebih dari 20 tahun yang lalu ini sudah menjadi seorang Ibu. Ibu dari seorang anak yang dititipkan Allah dengan segenap keistimewaannya, menyusul kakak pertama saya yang terlebih dahulu dititipi buah hati yang juga selalu mengingatkan kami untuk bersyukur, bersabar, dan berikhtiar melalui keadaannya. Tanpa pernah menyangka, kehadiran buah hati merekalah yang justru menjadi guru-guru terbesar kami tentang arti kehidupan ini.
Hidup saya, hidup kami, sejak kecil rasanya dipenuhi anugerah yang sungguh tidak terhitung lagi. Bapak dan Ibu, memilih untuk tinggal di Bandung lebih dari 30 tahun yang lalu, jauh dari orangtua mereka masing-masing dan membesarkan tiga anak perempuan dengan karakteristik yang berbeda-beda. Tentu saja sebagai keluarga muda Bapak dan Ibu berjuang keras untuk membesarkan kami. Memenuhi keinginan 3 anak perempuan yang punya senjata ‘ngambek’ atau ‘nangis’ kalau keinginannya tidak dipenuhi. Belum lagi kalau ada di antara kami yang jatuh sakit. Pernah suatu ketika saya jatuh sakit tepat ketika memasuki SMP. Satu bulan lebih demam tinggi dan dirawat di rumah sakit tanpa diketahui penyakitnya. Selama satu bulan itu, setiap istirahat siang Bapak datang ke rumah sakit dan menemani saya. Sebenarnya selama satu bulan itu tidak banyak yang bisa saya ingat, demam saya terlalu tinggi dan ketika sedang bangun pun rasanya seperti melihat mimpi saja. Tapi saya mengingat satu peristiwa, ketika itu saya terbangun dari tidur siang dan melihat Bapak menggenggam tangan kanan saya dengan kedua tangannya dan menempelkannya di depan wajahnya seperti sedang berdoa di samping tempat tidur saya. Bahu Bapak bergerak-gerak dan saya mulai merasakan tangan saya basah. Sesekali Bapak menyeka matanya. Sungguh saya tidak mengerti kenapa Bapak bersedih ketika itu. Kan saya yang sakit, lagipula cuma sakit panas saja. Baru kemudian saya tahu bahwa itu adalah jenis penyakit yang terjadi sebagai reaksi yang disebabkan oleh infeksi bakteri streptococcus dan, entah bagaimana, berdampak pada jantung saya, namanya rheumatic fever. Saya tidak tahu pasti keadaan saya ketika itu, tapi (baru saja) saya baca di Wiki****a, sepertinya pada tahap yang lebih lanjut penyakit itu cukup mengerikan. Mungkin ketika itu Bapak sudah tahu..entahlah.
Begitulah, dalam keluarga kami tentu saja datang masa-masa menyedihkan saat ada yang jatuh sakit, saat mendapat cobaan, tapi banyak juga masa-masa menyenangkan. Saat menjelang Lebaran misalnya, Ibu yang memiliki hobi memasak dan menjahit, selalu membuat beraneka macam kue kering dan menjahitkan baju Lebaran untuk ketiga anak perempuannya. Waktu masih kecil, tema bajunya selalu sama. Yang saya ingat ada foto keluarga yang diambil ketika Lebaran ketika saya berumur 2 atau 3 tahun. Saya dan kakak-kakak memakai gaun yang panjangnya sedikit di bawah lutut, berwarna putih gading (atau putih, saya tidak yakin) dengan pita satin putih pada potongan di atas perut. Sekilas modelnya tampak sama, meskipun kalau diperhatikan benar-benar sebetulnya tidak sama. Setelah saya sedikit lebih besar, Ibu bekerja sebagai dosen elektro di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Sejak itu Ibu menjadi lebih sibuk, terlebih ketika menjabat sebagai Wakil Rektor, oleh karenanya baju Lebaran kami lebih sering beli jadi ketimbang menjahit sendiri. Meskipun untuk urusan kue kering masih sering juga dibuatnya.
Kemudian tanpa terasa, anggota keluarga kami mulai bertambah, kakak saya satu persatu bertambah. Yang tadinya anggota keluarga kami adalah 1 laki-laki dan 5 perempuan (termasuk asisten rumah tangga yang menjadi bagian dari keluarga kami sejak saya berusia satu tahun), delapan tahun lalu bertambah satu kakak laki-laki yang oleh karenanya bertambah pula anggota kecil-kecil 7 tahun dan 3 tahun yang lalu. Kemudian setahun yang lalu bertambah lagi kakak laki-laki saya, yang kemudian disusul dengan kehadiran anggota terbaru yang juga laki-laki 9 minggu yang lalu. Jika disensus, maka jumlah keluarga kami sekarang berjumlah 11 orang, dengan perhitungan sementara 6 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Sebuah anugerah yang ternyata, Subhanallah luar biasa sekali.
Dua anggota termuda keluarga kami, ternyata dilahirkan dengan keadaan fisik yang sedikit berbeda dengan anggota-anggota sebelumnya. Keadaan yang membuat kami sadar bahwa Allah SWT bukan tidak sengaja menciptakan mahluk-mahlukNya, bukan tidak sengaja menganugerahkan kelebihan ataupun kekurangan. Semua ditaruhNya pada tempat-tempat yang tepat. Sejak hadirnya merekalah, kami, paling tidak saya, sungguh belajar sangat banyak.
Saya mencoba memahami mengapa jantung seseorang bisa ditaruh di sisi kanan, dan dalam keadaan terbalik, kemudian tanpa katup yang menyebabkan tercampurnya darah kotor dan darah bersih. Lalu mengapa ketika otak tidak mendapatkan oksigen selama waktu tertentu maka fungsinya akan terganggu. Lalu bagaimana mungkin bagian otak yang sangat kecil itu mengatur semua gerakan fisik seluruh bagian tubuh manusia. Lalu bagaimana sel tumor bisa ada di dalam tubuh seseorang. Lalu apa itu infeksi darah. Karena saya bukan dokter dan hal-hal semacam itu tidak pernah dipelajari di bangku sekolah, maka saya membaca berbagai bacaan dan literatur. Sulit sekali untuk dipahami. Yang pasti hanya membuat saya semakin tahu, betapa sedikitnya pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri. Dan betapa berharganya kesehatan dan usia yang dianugerahkan Allah pada mahlukNya.
Mencoba mengerti dan mencoba menerima adalah dua hal berbeda. Saya mengerti apa yang sedang terjadi, saya tahu bahwa ilmuwan-ilmuwan pintar di luar sana sedang mencaritahu jawabannya. Dokter-dokter yang merawat kedua keponakan saya sedang melakukan yang terbaik agar mereka bisa menjadi seperti anak-anak yang lain, bermain dengan ayah-ibunya, tumbuh dalam keluarga yang menyayanginya, seperti saya dan kakak-kakak saya dulu. Saya mengerti. Tapi mencoba menerima, ternyata jauh lebih sulit. Berulangkali saya dan keluarga, mendengar kata “sabar”, “ikhlas”, “ikhtiar”, “pasrah” dan hanya bisa menjawab InsyaAllah. Tak terhitung upaya yang dilakukan orangtua saya, maupun kakak-kakak, dan dukungan yang datang dari sanak saudara, teman-teman, dan tetangga terdekat untuk menerima keadaan yang dianugerahkan Allah kepada kami. Sampai pada akhirnya, bukan jawaban lagi yang kami butuhkan, bukan kepastian dari dokter akan kesembuhan orang-orang yang kami sayangi itu, bukan.
Ternyata itu adalah titik di mana kami menerima keadaan ini. Tentu saja usaha terus dilakukan dan harapan-harapan tidak pernah pupus, pun untaian doa tidak berhenti. Tapi menerima, adalah hal berbeda. Tersenyum dan bersyukur atas usia dan kesempatan yang masih diberikan hingga saat ini adalah hal yang hampir saya lupakan. Mengutip perkataan dokter yang merawat ponakan kepada kakak saya,
“Apalah artinya kesempurnaan orang yang kita sayangi jika dibandingkan dengan waktu dan kebersamaan yang bisa kita lalui bersamanya..” (kurang lebih)
Ternyata ada banyak sekali hal yang harus saya syukuri dengan adanya keadaan ini. Setiap waktu, setiap detik adalah kesempatan yang diberikan Allah untuk masih dapat bersama, terlepas dari kenyataan bahwa dalam konteks ruang, kebersamaan saya dan keluarga terbilang agak jauh. Yang mana sebenarnya, lain cerita, itu adalah anugerah juga untuk saya.
Saya mungkin tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, 10 detik dari sekarang, besok, tahun depan. Apakah bahagia, atau sedih. Apakah sulit, atau sederhana. Yang pasti Tuhan sudah merencanakan skenario terbaik untuk kita semua, karena bagaimanapun adanya, kehidupan adalah anugerah. Isn’t life beautiful? :)